‘Rosie the Riveter’ dan sejarah peran perempuan dalam bidang pengelasan

Sejarah peran perempuan dalam bidang pengelasan bermula dari revolusi tenaga kerja perempuan yang terjadi selama Perang Dunia II. Perempuan Amerika saat itu dibutuhkan untuk berkontribusi bagi negara mereka dalam berbagai posisi. Oleh karena itu, untuk pertama kalinya, akibat wajib militer bagi laki-laki, mereka beralih dari pekerjaan rumah tangga untuk memasuki dunia kerja dalam jumlah yang belum pernah terjadi sebelumnya, mengisi posisi-posisi yang sebelumnya tertutup bagi mereka dan semula hanya diperuntukkan bagi laki-laki.

Akibatnya, persentase tenaga kerja perempuan di Amerika Serikat meningkat dari 27 menjadi hampir 37 persen, antara tahun 1940 dan 1945. Industri penerbangan mencatat peningkatan terbesar dalam jumlah pekerja perempuan. Lebih dari 310.000 perempuan bekerja di industri pesawat terbang AS pada tahun 1943, yang merupakan 65 persen dari total tenaga kerja industri tersebut (dibandingkan dengan hanya 1 persen pada tahun-tahun sebelum perang).

Industri amunisi juga secara besar-besaran merekrut pekerja perempuan, sebagaimana digambarkan oleh tokoh utama dalam kampanye propaganda pemerintah “Rosie the Riveter”. Meskipun sebagian kecil terinspirasi dari seorang pekerja amunisi sungguhan, Rosie pada dasarnya adalah karakter fiktif yang diciptakan oleh J. Howard Miller; ia menjadi salah satu alat rekrutmen paling sukses dalam sejarah Amerika Serikat, serta simbol paling ikonik bagi perempuan pekerja selama perang.

Versi Rosie the Riveter yang paling dikenal luas, yaitu prototipenya, diciptakan pada tahun 1942 dan ditampilkan dalam sebuah poster untuk perusahaan listrik Westinghouse dengan slogan “We Can Do It!”. Pada tahun 1943, Redd Evans dan John Jacob Loeb merilis lagu populer berjudul “Rosie the Riveter”.

Rosie masih digunakan sebagai simbol feminisme dan kekuatan ekonomi perempuan.

Di akhir Perang Dunia II, apa yang akan terjadi?

Mereka seharusnya pulang ke rumah setelah perang berakhir, tetapi mereka menolak. Hal ini kemudian memicu serangkaian reformasi ketenagakerjaan bagi perempuan, yang pada akhirnya menghasilkan tenaga kerja yang lebih inklusif gender seperti yang kita lihat saat ini.

Saat ini, terdapat program pelatihan teknis yang mendukung integrasi perempuan ke dalam karier di bidang industri, seperti pengelasan.

Sumber:

Apakah Anda ingin memesan demo online gratis?

Solusi Augmented Reality dari Seabery yang menghubungkan pelatihan pengelasan dengan otomatisasi robotik. Isi formulir ini untuk mendapatkan informasi lebih lanjut dan mengetahui bagaimana solusi ini dapat disesuaikan dengan program pendidikan atau teknis Anda.

Minta demo produk

Gulir ke Atas